Harga Avtur Naik hingga 80 Persen, Tarif Tiket Pesawat Terancam Melonjak
Dikutip dari kompas.com - Konflik di Timur Tengah mendorong lonjakan harga avtur per 1 April 2026. Kenaikan mencapai 70 persen untuk domestik dan 80 persen untuk internasional. Kondisi ini memicu maskapai meminta penyesuaian tarif tiket.
Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia atau Indonesia National Air Carriers Association (INACA) menyebut penyesuaian harga mengikuti tren global.
"Seperti sudah kami perkirakan sebelumnya, harga avtur akan naik mengikuti harga di tingkat global karena imbas krisis geopolitik di Timur Tengah," ujar Ketua Umum INACA Denon Prawiraatmadja, Rabu (1/3/2026).
Contoh terlihat di Bandara Soekarno-Hatta. Harga avtur domestik naik dari Rp 13.656,51 per liter pada Maret 2026 menjadi Rp 23.551,08 per liter pada April 2026. Kenaikan mencapai 72,45 persen.
Harga internasional juga melonjak. Nilainya naik 80,32 persen dari 0,742 dollar AS per liter menjadi 1,338 dollar AS per liter.
Jika dibandingkan 2019, kenaikan lebih tajam. Harga avtur domestik saat itu Rp 7.970 per liter. Artinya, kenaikan sudah mencapai 295 persen.
INACA meminta pemerintah segera menyesuaikan tarif batas atas penerbangan domestik. Asosiasi juga mendorong kenaikan biaya tambahan bahan bakar atau fuel surcharge.
"Oleh karena itu, kami mendesak pemerintah untuk segera melakukan penyesuaian kenaikan biaya tambahan bahan bakar avtur dan tarif batas atas penerbangan domestik," kata Denon.
Baca juga: Garuda Siapkan Strategi Hadapi Lonjakan Harga Avtur
Sebelumnya, INACA mengusulkan kenaikan fuel surcharge dan tarif batas atas sebesar 15 persen. Lonjakan harga terbaru membuat usulan tersebut perlu ditinjau ulang.
Denon menilai penyesuaian tarif perlu segera dilakukan. Biaya bahan bakar menyumbang sekitar 40 persen dari total biaya operasional maskapai.
“Penyesuaian perlu segera diberlakukan agar maskapai penerbangan dapat tetap beroperasi dengan tetap menjaga keselamatan penerbangan (safety insurance), serta menjaga finansial maskapai agar tetap bisa beroperasi (business sustainability) dan menyediakan konektivitas transportasi udara nasional," jelas Denon.
PT Garuda Indonesia Tbk merespons tekanan biaya dengan strategi efisiensi. Perusahaan fokus pada pengendalian biaya dan pengelolaan bahan bakar.
"Langkah-langkah tersebut mencakup optimalisasi pengelolaan bahan bakar serta efisiensi biaya operasional, sebagai upaya menjaga keseimbangan terhadap potensi tekanan kinerja akibat kenaikan harga avtur," ujar Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia Thomas Oentoro, Selasa (31/3/2026).
Manajemen juga menjaga struktur biaya dan likuiditas. Evaluasi opsi mitigasi dilakukan secara berkelanjutan.
Thomas menegaskan bahan bakar menjadi komponen biaya terbesar. Fokus diarahkan pada penguatan arus kas dan efisiensi operasional.
"Hal ini sejalan dengan karakteristik biaya bahan bakar sebagai salah satu komponen biaya terbesar dalam struktur biaya operasional penerbangan," kata dia.
Garuda memastikan operasional tetap berjalan. Perusahaan juga memperkuat koordinasi internal untuk menjaga keberlanjutan bisnis.
"Kami memandang bahwa penguatan ekosistem industri melalui kerja sama dan sinergi yang lebih erat dengan para pemangku kepentingan di sektor aviasi nasional menjadi faktor kunci dalam menjaga resiliensi industri penerbangan di tengah tekanan global saat ini," pungkasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership.
