|
Jakarta (MCH). Minat calon jamaah haji (CJH) menggunakan fasilitas
perbankan syariah untuk menyetorkan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji
(BPIH) masih minim. Data Kementerian Agama (Kemenag) menyebutkan bahwa
dari Rp 25 triliun dana jamaah haji yang disetorkan, baru 19 persen yang
dikelola bank Syariah.
"Sisanya sebesar 81 persen masih dikelola
oleh bank konvensional," ujar Direktur pengelolaan BPIH dan SIH,
Kemenag Ahmad Djuanedi di Jakarta kemarin (29/5). Menurut dia CJH masih
sulit mendapatkan kepastian dan rasa nyaman dananya apakah membawa
barakah atau tidak. Karena itu Kemenag memberikan kesempatan bagi bank
syariah untuk semakin giat mengelola dana haji.
"Dari dana haji
yang ada di bank, komposisinya masih 19 persen bank syariah, 81 persen
lagi masih di bank konvensional, sekarang tinggal bagaimana caranya
meyakinkan agar mendorong ke arah syariah," kata dia. Sampai saat ini
ada lima perbankan syariah yang aktif dalam mengelola tabungan haji
masyarakat. Antara lain, Bank Bukopin Syariah, Bank Muamalat, Bank BNI
Syariah, Bank Syariah Mandiri, dan Bank Mega Syariah. "Padahal seperti
diketahui, potensi haji hingga saat ini daftar tunggunya sudah mencapai
1,2 juta orang," kata dia.
Setiap tahunnya, kuota haji untuk
Indonesia hanya sekira 200 ribu jamaah, maka potensi perbankan syariah
untuk mengelolanya sangat terbuka lebar. Belum lagi peluang untuk
mengelola dana umrah yang selama ini belum tersentuh oleh perbankan.
"Potensi umrah akan naik luar biasa, tidak terbatas oleh kuota, itu
belum ada yang melirik padahal potensinya 10 kali lipat dari kuota
haji," tegasnya.
Secara terpisah, Setdirjen Haji dan Umrah,
Kemenag, Abdul Ghafur Djawahir mengatakan bahwa pemerintah telah
menerima sejumlah rekomendasi dan proposal maskapai penerbangan haji.
Terkait kemungkinan menjadi mitra pemerintah mengangkut jamaah haji ke
Tanah Suci telah ada lima maskapai yang bersaing. Antara lain, Lion Air,
Batavia Air, Garuda Indonesia, Saudi Arabian Airlines, dan Emirates
Airlines.
Ghafur kemudian merinci data teknis, masukan, dan
kemampuan maskapai untuk menjadi operator transportasi haji. Meski telah
memiliki izin mendarat di Arab Saudi dan mengangkut jamaah umrah, Lion
Air menyatakan belum siap mengangkut jamaah haji. Alasannya, masa
persiapan tidak cukup."Hal yang sama juga dialami Batavia Air. Meskipun
sanggup menawarkan harga lebih rendah dibanding Garuda. Menurut Ghafur,
kalau melihat fakta yang ada, persiapan maskapai penerbangan tersebut
tak akan mencukupi guna mengangkut jamaah haji tahun ini. "Mereka juga
baru mengawali penerbangan ke Arab Saudi pada 23 Mei," kata dia.
Ia
mengungkapkan, Batavia yang menyampaikan kesiapan memberikan harga
lebih rendah dari maskapai lain sekadar untuk publikasi. Artinya, mereka
ingin masyarakat tahu bahwa Batavia Air siap mengangkut jamaah haji
Indonesia ke Tanah Suci. Demikian pula dengan Emirates. Maskapai ini
menyatakan tak bisa langsung terbang dari Indonesia ke Arab Saudi. Abdul
Ghafur menyatakan, pesawat mereka harus transit terlebih dahulu di Abu
Dhabi. "Padahal, pemerintah maunya Haji harus langsung terbang menuju ke
Arab Saudi," ungkapnya.
Karena itu, pemerintah baru tertarik
pada dua maskapai yang telah menyampaikan proposal dan kesiapan kepada
pemerintah. Yakni, Garuda Indonesia dan Saudi Arabian Airlines. "karena
waktu sudah mepet kemungkinan kami masih akan pakai maskapai lama." (*)
Sumber : Depag |